Selasa, 29 Mei 2012

Ikan beracun

salah seorang tukang pancing berangkat dipagi hari untuk mencari rezeki yang halal. dia melemparkan kailnya ke atas sungai. namun, sudah beberapa lama ia menyimpangkan kail tidak satu pun ikan yang tersangkut. ia berdoa dengan nada sumpah kepada Allah bahwa anak-anaknya berteriak kelaparan di rumahnya. sebentar lagi matahari akan segera terbenam. akhirnya allah memberikan rezeki, yaitu berupa ikan yang sangat besar. ia bersyukur kepada Allah swt. ia segera mengambilnya dasn membawa pulang dalam keadaan penuh rasa bahagia.
ketika sedang menempuh jalan yang menuju ke rumahnya, tiba-tiba ia bertemu dengan rombongan seorang raja yang sedang jalan-jalan untuk mencari angin segar. sang raja melihat orang yang membawa ikan tadi dan meminta untuk mendekati. raja mengetahui bahwa orang tersebut membawa ikan. ia sangat terpesona dengan ikan tersebut maka, ia mengambil paksa dirinya dan dibawa ke istananya. sang raja bermaksud memberi kejutan kepada permaisurinya. ia mengeluarkan ikan tersebut di hadapan permaisurinya dan ikan pun berputar-putar.
tiba-tiba ikan tersebut menggigit tangan raja. semalam suntuk raja tidak dapat beristirahat dan tidak bisa tidur. lalu ia memanggil para tabib kerajaan agar mengobatinya. para tabib menganjurkan agar jari tangan sang raja dipotong. maka, jari sang raja dipotong. namun, tetep saja semalam suntuk dirinya tidak dapat tidur. racun ikan tersebut telah merasuki seluruh tangannya.
selanjutnya, para tabib menganjurkan agar tangan raja dipotong. dipotonglah tangan sang raja. namun, setelah tangannya dipotong pun sang raja tidak dapat beristirahat. bahkan, ia trus menjerit-jerit meminta tolong. para tabib menganjurkan agar pergelangan tangannya sampai ke sikut dipotong. memang,setelah tangannya dipotong sampai pada sikut raja, rasa sakitnya berhenti. namun jiwanya tidak merasa tenang karena ia tahu keadaan dirinya tidak memiliki satu tangan.
akhirnya, para tabib menganjurkan agar sang raja berobat kepada ulama ahli penyakit jiwa. sang raja berangkat menemui seorang ulama ahli jiwa. di hadapan sang ulama raja tersebut membeberkan kisah ikan yang diambilnya secara paksa dari seorang tukang pancing. ulama tersebut berkata, ''jiwamu tidak akan tenang kecuali jika tukang pancing tersebut memaafkanmu.' maka sang raja berupaya mencari tukang pancing yang dirampas ikannya itu. akhirnya, raja menemukannya. raja mengadukan masalah penderitaannya dan meminta kepadanya agar mau memaafkannya. tukang pancing tersebut memaafkan raja sehingga ia merasa tenang. lalu ia bertanya kepada tukang pancing tadi, ''apa yang engkau katakan untukku, ketika ikanmu dirampasolehku?'' tukang pancing berkata, ''saya tidak mengatakan apa-apa kecuali satu kalimat, 'ya Allah, ia telah melemahkan kekuatanku. Tampakkanlah kekuasaan-Mu kepadnya!''

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka (dengan penuh keridhaan) diantara kamu. Dan janganlah kaum membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nissa’: 29)
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar